Ketika saya berusia 13 tahun, seorang teman dekat mulai meminta dukungan saya selama perjuangannya melawan depresi.
Rasa sakitnya begitu perih dan tak tertahankan. Tak lama kemudian, saya menjadi orang yang ia percayai untuk mencurahkan isi hatinya yang tergelap, sering kali menerima pesan-pesan yang berisi permohonan mendesak untuk bantuan di setiap jam.
Keinginan untuk membantu yang awalnya muncul tiba-tiba berubah menjadi beban yang luar biasa. Tekanan untuk selalu ada, mendengarkan, dan menghibur seringkali membuat saya merasa terkekang.
Jika saya tidak segera merespons, saya takut akan konsekuensinya. Kebutuhannya akan dukungan tak henti-hentinya, dan seiring waktu, saya mendapati diri saya terperangkap dalam siklus rasa bersalah dan cemas, tidak mampu menetapkan batasan atau melindungi kesejahteraan saya sendiri.
Seiring berlalunya waktu, saya berulang kali terjebak dalam pola ini. Saya menjadi orang yang dituju banyak teman yang ingin mencurahkan isi hati atau meminta nasihat tentang masalah kesehatan mental mereka.
Dengan berbuat demikian, saya memberikan dukungan emosional dengan mengorbankan kesehatan mental saya sendiri.
Semakin saya mencoba untuk mundur dan menciptakan ruang bagi diri saya sendiri, semakin kecenderungan saya untuk menyenangkan orang lain menarik saya kembali ke peran ini.
Pengalaman ini membuat saya bertanya: Bagaimana mungkin banyak dari kita bisa menjadi “sahabat terapis”? Bagaimana kita bisa mengelola beban mendukung orang yang kita cintai tanpa kehilangan diri kita sendiri dalam prosesnya?
MENGAPA SAHABAT ADALAH GARIS DUKUNGAN PERTAMA KITA
Saat menghadapi tantangan emosional, berpaling kepada teman sering kali terasa seperti hal yang paling alami. Naluri ini muncul dari rasa nyaman dan pengertian yang diberikan teman, menjadikan mereka sumber dukungan yang mudah diakses.
Menurut para ahli, kekuatan dukungan rekan terletak pada kemampuannya yang unik untuk menawarkan pengalaman bersama.
“Ketika teman-teman mengalami atau telah mengalami tahapan dan perjuangan hidup yang sama, ada rasa nyaman karena tahu, ‘kamu mengerti saya’,” kata Ibu Amanda Tay, seorang konselor di Eagles Mediation and Counselling Centre.
Pemahaman bersama ini menumbuhkan hubungan mendalam yang dapat membantu meringankan perasaan kesepian dan keterasingan yang sering menyertai perjuangan pribadi.
Selain itu, teman sering kali merasa lebih mudah diakses daripada profesional kesehatan mental seperti terapis.
Ibu Qi Zhai-McCartney, seorang psikoterapis dan direktur Atlas Therapy and Coaching, mengatakan: “Bagi dewasa muda, stres sehari-hari akibat putus cinta, tekanan akademis, tantangan pekerjaan, dan teman sebaya dapat menormalkan pengalaman dan memberikan empati yang mungkin terasa lebih autentik daripada (dukungan dari) orang dewasa yang lebih tua atau terapis profesional.”
Selain memberikan kenyamanan, jaringan teman sebaya juga membantu membangun ketahanan.
Terlibat dalam persahabatan yang kuat dapat meningkatkan suasana hati jangka pendek kita, meningkatkan tingkat aktivitas fisik kita, dan bahkan membantu kita membangun penyangga terhadap tantangan kesehatan mental di masa mendatang, jelas Tn. Mark Rozario, seorang psikolog klinis di Mind What Matters.
” Hal ini menunjukkan bahwa orang yang suasana hatinya sedang buruk cenderung lebih sering keluar rumah dan melakukan aktivitas fisik jika ada teman yang membujuk mereka untuk melakukannya,” ujarnya – baik sebagai teman olahraga maupun sekadar jalan-jalan santai.
KETIKA DUKUNGAN BERUBAH MENJADI TEKANAN
Memberikan rasa nyaman dan kepercayaan merupakan aspek inti dari banyak persahabatan, tetapi dinamika ini dapat menjadi tidak sehat jika menjadi bias.
Dukungan emosional yang sepihak dapat mengubah sifat persahabatan dari keterikatan timbal balik menjadi kepedulian emosional, ujar Ibu Zhai-McCartney. Seiring waktu, teman yang memberikan dukungan mungkin merasa terkuras dan bersalah, sementara orang yang mencari bantuan mungkin menjadi tergantung, kehilangan daya, atau disalahpahami.
Ketidakseimbangan seperti ini dapat melemahkan persahabatan. “Persahabatan tumbuh subur karena adanya timbal balik,” ujarnya. “Tanpanya, ikatan akan melemah.”
Beban emosional dapat dengan cepat menjadi tidak berkelanjutan dan berpotensi merusak persahabatan jika tidak ditangani, kata Tn. Rozario.
KETIKA TEMAN TAK BISA MELAKUKAN SEMUANYA
Meskipun teman merupakan sumber dukungan emosional yang penting, mereka tidak dapat menggantikan keterampilan mengatasi masalah atau terapi terstruktur yang mungkin diperlukan untuk perjuangan yang lebih berat, kata para ahli.
“Beralih ke teman itu sehat, tapi seperti semua hal dalam hidup, moderasi adalah kuncinya,” kata Ibu Zhai-McCartney. “Meminta nasihat atau mencurahkan isi hati kepada teman bukanlah satu-satunya strategi untuk mengatasi masalah.”
Penting juga untuk menyadari kapan beban emosional suatu situasi melampaui batas kemampuan teman. Ibu Zhai-McCartney berkata: “Jika emosi (negatif) terus-menerus, meluas, atau melumpuhkan, itu adalah ambang batas untuk perawatan profesional.”
Bagi mereka yang mencari pertolongan dari teman, Ibu Tay menyoroti tanda-tanda bahaya, termasuk suasana hati yang terus-menerus buruk, gangguan tidur, nafsu makan atau fokus, dan saat Anda merasa teman-teman Anda terkuras habis oleh perjuangan Anda.
Pada titik ini, dukungan profesional tidak hanya menyediakan alat yang diperlukan untuk mengelola tantangan ini tetapi juga mencegah persahabatan Anda menjadi terlalu terbebani.
Terlalu mengandalkan teman sebagai penopang emosional dapat mencegah kita mengembangkan keterampilan mengatasi masalah dan ketahanan yang diperlukan untuk menghadapi tantangan secara mandiri.